Sabtu, 12 Maret 2016

TAWARAN KERJA

Aku sengaja melewati pintu samping sekolah agar terhindar dari desakan siswa yang bergerombol didepan pintu gerbang .
pada jam-jam begini , siswa yang pulang dengan siswa yang masuk yang beradu arah melewati pintu yang sama. Belum lagi sejumlah becak yang antere didapan gerbang , menambah kemacetan yang hendak keluar masuk halaman sekolah.
 Di sepanjang jalan, puluhan mobil jemputan tanpak berjejer. Jalan yang tadinya cukup lebar jadi terlihat sempit. Di depan pagar masjid, ku lihat sudah ada mobil Jim. ‘’Hai , sudah lama menunggu? ‘’ sapaku. ‘’Baru lima menit.’’ Jim tampak lebih ceria dari kemarin .dengan kaos oblong warna dongker dan topi pet warna biru bergaris putih Jim terlihat seperti seorang olahragawan .
Warna itu mencerahkan penampilan Jim yang berkulit kuning. ‘’Bagaimana kalau kita makan dulu?’’ ‘’Siapa yang tidak mau di teraktir? Lapar – lapar begini , lagi.’’ ‘’Kamu suka masak Jepang atau Padang ?’’ Jim memberikan pilihan pada ku. ‘’Padang,’’ sahut ku cepat . Aku memang suka masak Ranah Minang itu. Jim mengambil jalan kearah kanan. Mobil melaju dengan kencang sampai didepan restoran Puti Bungsu, mobil berhenti.
Kami masuk dan naik ke lantai dua. Kami duduk berhadapan di sudut ruangan, dekat jendela. Hanya beberapa menit, hidangan dengan berbagai lauk sudah tersedia. Aku lasung meminum es teh. Sejuknya terasa segar membasahi kerongkongku. Selama menikmati santapan siang, kami tidak banyak bicara. Aku benar – benar menikmati rendang dan dendeng paru sebagai makanan siang ku. Seluruh tubuhku basah oleh keringat.
Sampai – sampai aku terpaksa melonggarkan ikan secara diam – diam. Ku lihat Jim sudah mencuci tangan. Sambil menungguku selsai makan, Jim menyulut sebatang rokok. ‘’Rokok?’’Jim menawarkan rokok nya setelah aku selesai mengelap tangan dan mulut ku. ‘’Maaf , aku tidak merokok.’’ ‘’Kopi ?’’ tawaran Jim lagi. ‘’ kalau kopi, bolahlah.’’ Jim memesan dua cangkir kopi kepada pelayan nya. Saat itu Jim terlihat sangat menikmati rokok tengah diisapnya. Kepulaan asap yang terluar dari mulutnya menyebar hingga mengaburkan pandangan ku. ‘’Tidak pernah ku duga kita bisa bertemu seperti ini,’’ ujar ku memulai pembicaraan . “Aku juga tidak menyangka, ‘’ sambung Jim. Kami tertawa perasaan bahagia menyelimuti persaan kami. ‘’Namun , aku sekarang sudah lain . tidak anak sekolahan seperti kamu lagi,’’ujar Jim dengan nada agak lain . ‘’sama saja, malah aku bangga melihatmu . kamu lebih mandiri dari aku ,’’ kataku sungguh. ‘’Terpaksa harus mandiri,Yon,’’ suara Jim terdengar bergetar. Seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya. ‘’jalan hidup seseorang berbeda-beda, Jim.’’ Jim seperti memikirkan sesuatu . Aku tidak sabar menunggu tawaran Jim berikutnya. ‘’Kalau kamu mau , sebenarnya aku memerlukan orang seperti kamu.’’ ‘’Aku senang jika bisa membantumu, Jim,’’jawabku cepat.
Aku merasa lega . ‘’Tetapi apa bisa? ‘’ ‘’Mengapa?kamu ragu karena aku tidak punya SIM?’’ ‘’bukan begitu maksudku. Masalahnya menyangkut jam kerja .Kamukan harus sekolah,’’ Jim mengerutkan keinginannya. ‘’Maaf, Jim! Sebenarnya usaha mu atas, sih ?’’ ‘’Macam-macam ! sekarang ini aku jualan alat-alat elektronik. ‘’ ‘’Di mana?’’ ‘’Ya ,dimana saja,’’ Jim tertawa. ‘’Maksudku , toko kamu !’’ ‘’kalau toko tidak punya .Bingung,ya ?’’ ‘’Ah, bercanda kamu.’’ ‘’Benar,aku tidak punya. ‘’ ‘’Jangan terlalu merendah.’’ ‘’Benar.’’ ‘’Lalu?’’ ‘’Aku membawa barang dari rumah seseorang,lain kuantar kerumah yang lain ,’’jawab Jim santai. ‘’puas?’’ Meskipun belum begitu jelas, tapi aku tersenyum mendengar jawaban Jim . ‘’Jim aku sangat membutuhkan pekerjaan . Beberapa bulan lagi aku tamat .aku benar-bensr membutuhkan uang.’’ Dua hari lagi,kita urus SIM untumu. Aku punya kenalan seorang polisi .Pasti dia mau membantu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar