Selasa, 15 Maret 2016

Turun Dari Kereta

Tepat pukul tujuh lebih seper empat, kereta api Agro Willis yang aku tumpangi berhenti di Stasiun gubeng, Surabaya.

Aku terbangun dari tidurku di kursi kereta api. Rasa lelah karena menempuh perjalanan dari Bandung menuju Surabaya masih terasa oleh ku. Samar – samar ku dengar peringatan dari petugas PT KAI bahwa kereta dari Bandung menuju Surabaya sudah sampai di tujuan.

Lalu, aku segera membangunkan Doni, sepupuku yang sama – sama hendak berlibur ke rumah kakek di Surabaya. “Don, ayo turun! Kita sudah sampai,” kataku kepada Doni. Doni pun langsung terbangun. Aku dan Doni lalu bersama-sama membereskan perbekalan. Aku berjalan menuju pintu keluar. Tidak terasa keringat di pipi dan leherku menetes.

Iklim Surabaya dengan iklim Bandung memang sangat jauh berbeda. Surabaya beriklim panas karena kotanya berada didekat pantai, sedangkan Bandung beriklim dingin karena kotanya dikelilingi gunung. Begitulah penjelasan dari guruku.

Di tempat tunggu, Kakek terlihat menyambut kedatangan aku dan Doni dengan gembira. “ Kakek...!” ujarku dan ujar Doni sambil memeluk kakek. Kakek mengusap ranbutku dan rambut Doni, lalu berkata, “ Cucu-cucu kakek sudah pada besar ya sekarang, sudah berani mengunjungi Kakek tanpa di dampingi orang tua.

O ya, kelas berapa kalian ?” Sebelum menjawab pertanyaan kakek, aku dan Doni melepaskan pelukannya. “Sekarang, aku dan Doni kelas V SD, Kek !” jawabanku tegas . “ Pantas saka! O ya, bagai mana keadaan orang tua kalian di Bandung, Di, Don? ” “Sehat, Kek” jawabanku.” O ya, Bapak dan Paman juga menitipkan salam untuk kakek.

Bapak belum bisa bertemu dengan Kakek saat ini. Minggu depan bapak akan menjemput kami. Jadi, Bapak dan Paman sibuk di tempat kerjanya.” “ Ya, Kakek sudah maklum itu. Ayo, ngobrolnya di rumah saja. Nenek sudah menunggu di rumah.” Aku, Doni, ddan Kakek lalu mempercepat langkah. Aku dan Doni memang ingin segera bertemu dengan Nenek. Selain itu, Aku dan Doni pun ingin segera beristirahat.

Sabtu, 12 Maret 2016

TAWARAN KERJA

Aku sengaja melewati pintu samping sekolah agar terhindar dari desakan siswa yang bergerombol didepan pintu gerbang .
pada jam-jam begini , siswa yang pulang dengan siswa yang masuk yang beradu arah melewati pintu yang sama. Belum lagi sejumlah becak yang antere didapan gerbang , menambah kemacetan yang hendak keluar masuk halaman sekolah.
 Di sepanjang jalan, puluhan mobil jemputan tanpak berjejer. Jalan yang tadinya cukup lebar jadi terlihat sempit. Di depan pagar masjid, ku lihat sudah ada mobil Jim. ‘’Hai , sudah lama menunggu? ‘’ sapaku. ‘’Baru lima menit.’’ Jim tampak lebih ceria dari kemarin .dengan kaos oblong warna dongker dan topi pet warna biru bergaris putih Jim terlihat seperti seorang olahragawan .
Warna itu mencerahkan penampilan Jim yang berkulit kuning. ‘’Bagaimana kalau kita makan dulu?’’ ‘’Siapa yang tidak mau di teraktir? Lapar – lapar begini , lagi.’’ ‘’Kamu suka masak Jepang atau Padang ?’’ Jim memberikan pilihan pada ku. ‘’Padang,’’ sahut ku cepat . Aku memang suka masak Ranah Minang itu. Jim mengambil jalan kearah kanan. Mobil melaju dengan kencang sampai didepan restoran Puti Bungsu, mobil berhenti.
Kami masuk dan naik ke lantai dua. Kami duduk berhadapan di sudut ruangan, dekat jendela. Hanya beberapa menit, hidangan dengan berbagai lauk sudah tersedia. Aku lasung meminum es teh. Sejuknya terasa segar membasahi kerongkongku. Selama menikmati santapan siang, kami tidak banyak bicara. Aku benar – benar menikmati rendang dan dendeng paru sebagai makanan siang ku. Seluruh tubuhku basah oleh keringat.
Sampai – sampai aku terpaksa melonggarkan ikan secara diam – diam. Ku lihat Jim sudah mencuci tangan. Sambil menungguku selsai makan, Jim menyulut sebatang rokok. ‘’Rokok?’’Jim menawarkan rokok nya setelah aku selesai mengelap tangan dan mulut ku. ‘’Maaf , aku tidak merokok.’’ ‘’Kopi ?’’ tawaran Jim lagi. ‘’ kalau kopi, bolahlah.’’ Jim memesan dua cangkir kopi kepada pelayan nya. Saat itu Jim terlihat sangat menikmati rokok tengah diisapnya. Kepulaan asap yang terluar dari mulutnya menyebar hingga mengaburkan pandangan ku. ‘’Tidak pernah ku duga kita bisa bertemu seperti ini,’’ ujar ku memulai pembicaraan . “Aku juga tidak menyangka, ‘’ sambung Jim. Kami tertawa perasaan bahagia menyelimuti persaan kami. ‘’Namun , aku sekarang sudah lain . tidak anak sekolahan seperti kamu lagi,’’ujar Jim dengan nada agak lain . ‘’sama saja, malah aku bangga melihatmu . kamu lebih mandiri dari aku ,’’ kataku sungguh. ‘’Terpaksa harus mandiri,Yon,’’ suara Jim terdengar bergetar. Seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya. ‘’jalan hidup seseorang berbeda-beda, Jim.’’ Jim seperti memikirkan sesuatu . Aku tidak sabar menunggu tawaran Jim berikutnya. ‘’Kalau kamu mau , sebenarnya aku memerlukan orang seperti kamu.’’ ‘’Aku senang jika bisa membantumu, Jim,’’jawabku cepat.
Aku merasa lega . ‘’Tetapi apa bisa? ‘’ ‘’Mengapa?kamu ragu karena aku tidak punya SIM?’’ ‘’bukan begitu maksudku. Masalahnya menyangkut jam kerja .Kamukan harus sekolah,’’ Jim mengerutkan keinginannya. ‘’Maaf, Jim! Sebenarnya usaha mu atas, sih ?’’ ‘’Macam-macam ! sekarang ini aku jualan alat-alat elektronik. ‘’ ‘’Di mana?’’ ‘’Ya ,dimana saja,’’ Jim tertawa. ‘’Maksudku , toko kamu !’’ ‘’kalau toko tidak punya .Bingung,ya ?’’ ‘’Ah, bercanda kamu.’’ ‘’Benar,aku tidak punya. ‘’ ‘’Jangan terlalu merendah.’’ ‘’Benar.’’ ‘’Lalu?’’ ‘’Aku membawa barang dari rumah seseorang,lain kuantar kerumah yang lain ,’’jawab Jim santai. ‘’puas?’’ Meskipun belum begitu jelas, tapi aku tersenyum mendengar jawaban Jim . ‘’Jim aku sangat membutuhkan pekerjaan . Beberapa bulan lagi aku tamat .aku benar-bensr membutuhkan uang.’’ Dua hari lagi,kita urus SIM untumu. Aku punya kenalan seorang polisi .Pasti dia mau membantu.

Bertemu Teman Lama

Pagi-pagi sekali,aku sudah berangkat kesekolah sebelum bapak berangkat kekantor .
‘’kok buru-buru amat ?’’tanya ibu.
‘’Biar masih segar sampai disekolah, Bu.Oh ya ,nanti aku pulang terlambat.Aku akan belajar dirumah Ivan ,’’bisiku pada ibu.
‘’Hati-hati !’’ ‘’Ya, Bu .Bapak mana ?’’
‘’Di kamar mandi.’’
‘’Pak, aku berangkat ! ‘’kataku agak berteriak.
‘’Hm, ya!’’ sahut bapak.
Senang juga ada sahutan dari bapak. Langit tampak cerah.kucup aru disepanjang jalan mahoni meliuk-liuk diterap angin pagi. Aku berjalan menuju halte. Orang-orang sudah ramai menunggu angkutan yang akan mengantarkan mereka ketujuan masing-masing beberapa pasang mata beradu pandang dan saling diam tak menyapa .setiap kali bus berhenti, terlihar orang naik berdesakan.Kecepatan dan kekuatan.Sangat diperlukan untuk memenangkan perebutan angkutan. ‘’Hai,Yo!’’ seseorang betopi pet melongkkan kepalanya dari kaca sebuah mobil sedan. Aku terkejut. Suara itu seperti pernah kukenal.Orang itu membuka topinya.
Akupun berjalan mendekat.’’kau lupa padaku?’’ ‘’astagga ! Kamu, Jim? ‘’ kupegang tanganya, kemudian bersalaman. Aku baru teringat kalau dia adalah Jim, teman sekolah ku semasa SLTP dulu .’’nunggu bus sekolah?’’
‘’Ya !’’
‘’Mari, kuantar !’’ Aku langsung naik .Honda civic merah metalik itu pun meluncur dengan tenang. ‘’Kamu sekolah dimana? ‘’
‘’SMU 17 Jati Wangsa . ‘’
‘’Oh, hebat bagaimana kabarmu ?’’
‘’Baik! Kamu sendiri sekolah di mana?’’
‘’Aku? Tidak sekolah lagi .’’
‘’Aku gak percaya ,Jim.Ternyata kou masih suka melucu. “
‘’benar, Yon ! koulah lihat tampangku sekarang,’’ Jim menghadapkan wajahnya ke arahku.
‘’Mana ada anak sekolah yang pakai kumis, ‘’ Jim tersenyum padaku.
‘’Kalau begitu, kou sudah berkerja?’’
‘’Ya , begitulah!’’
‘’Enak dong !’’
 ‘’Memang enak, tapi ada nggak enaknya juga ,sih!’’ sahut Jim.
‘’tapi banyak enaknya, dong !kan sudah bisa mengantongi duit sendiri.
’’ Memang dari penampilannya, Jim tampak lebih deewasa dari usia yang sebenarnya. Semasa SLTP , aku dan Jim satu kelas .Kami malah duduk sebangku.sejak itu kami tidak pernah berhubungan lagi .